18+ True Love Never Dies (Indonesia - 2010)

Monday, January 10, 2011 at 1:42 AM

"Kalau umur aku udah 100 tahun, gigi aku kuning, rambut aku putih, tetek aku kempes dan pantat aku penyot, kamu masih cinta??" ....... Seketika gue harus ngakak mendengar kalimat ini dari seorang cewek sakratulmaut dengan suara annoying, scene drama yang mestinya mendayu dayu harus berakhir sangat komedi buat gue, thanks to Nayato Fio Nuala yang membuat film ini dengan gayanya yang khas.

Opening title merah merona diawal film cukup mempesona, sepasang kekasih diclose up kegiatan cinta mereka, poin yang sangat menarik, (lihat capture) selanjutnya kehidupan remaja remaji disorot dengan angle kamera yang ajaib, terkadang dari bawah (gak tahu istilahnya apa) tapi gue merasa kamera bener bener diletakkan diatas tanah dan menyorot kearah langit, kegiatan kampus digeber secara normal, tapi tunggu dulu lihat sekilas percakapan antara para characternya, co :"disamperin orang ganteng kok lecek gitu mukanya ... ???" Ce: "I am not in the mood" (persis seperti ABG yang pengen digamparin wajahnya) .. Si cowok nggak mau kalah, bertingkah seperti Playboy kampung menjawab "gue keren lu cantik, kenapa kita gak pacaran aja ... " Sontak si cewek ngambek dan mengeluarkan statement aneh bin ajaib "Gue Gak PERAWAN lagi ... " Entah apa yang ada di otak gue melihat script yang super lemah ini, setengah memaki dan ketawa tawa terpingkal-pingkal.

Kembali ke plotnya yang sangat komplit dan berlapis, kita dihadapkan pada beberapa persoalan, Pacaran ala ABG yang dimulai dengan rasa saling benci, seorang cewek yang menderita penyakit sehingga harus dioperasi, masalah keluarga dimana seorang ayah berselingkuh, sementara sang ibu yang sex maniac melakukan masturbasi dengan memperlihatkan halaman youtube dilayar komputernya, wondering apakah bisa bermasturbasi dengan video dari youtube ???.

"Pinter"nya Nayato adalah membuat dua klimaks dalam film ini, setidaknya ketika dua klimaks terjadi kita dihadapkan pada scene scene ringan dan melodramatis untuk kemudian diakhiri dengan fighting scene dan tembak-tembakan ditengah hujan lebat, o sudah tentu seluruh emosi para aktornya dikerahkan untuk ending ini, sang cewek teriak histeris sekuat tenaga sembari memangku cowoknya yang mati dengan latar hujan .. Semua disajikan tentu saja dengan slow motion.

Nayato Fio Nuala memang ajaib, dia adalah sutradara paling produktif, setelah beberapa kali menonton filmnya, baru nyadar ternyata memang dia punya pakem sendiri dalam membuat film, Fast Forward Scene seperti dalam film film horror yang diterapkan disemua filmnya, angle camera yang ajaib, dia selalu punya ide harus meletakkan kamera dimana sehingga menghasilkan scene yang ajaib pula, slow motion untuk efek yang lebih dramatis, dsb. Contoh Scene ketika Arumi Bachsin hadir, maka musik menjadi indah dengan slow motion plus wajah Bachsin yang senyum diperindah dengan rambutnya dibuat terurai dihempas angin, persis seperti efek ojek.

Yang jadi masalah, apakah mereka (sutradara, producer, dsb) tidak merasa bahwa film ini sangat lemah dalam hal script, kaku dan ajaib, mari bandingkan dengan script Ada apa dengan Cinta yang walaupun bermain dengan puisi puisi berat namun dialognya serasa membumi, oh tunggu dulu film ini juga membahasa karya Shakespeare secara mendalam dibeberapa scene, namun hal ini sangat tidak membantu, malah membuat banyak hal menjadi tidak saling bertautan.

"Keajaiban" film ini terlengkapi dengan kehadiran band metal KOIL yang mengisi soundtrack plus tampil dipertengahan film, WTF ... Film Melodrama dengan Soundtrack Metal .... Pikir sendiri deh.

Cast : Arumi Bachsin, Rangga Djoned, Wulan Guritno, Samuel Zyglwyn, Leylarey Lesesne, Stevanie Nepa

Directed By : Nayato Fio Nuala

My Rate : 2,1/5

Sent From my iPhone 3GS

0 comments

Just Blog of Mine | Powered by Blogger | Entries (RSS) | Comments (RSS) | Designed by MB Web Design | XML Coded By Cahayabiru.com